Perilaku Berisiko Pada Remaja
Selamat Siang Sobat Bloggers, jumpa lagi bersama kita.
Sobat Bloggers di sini pasti sudah menunggu update blog terbaru kita pada siang hari ini yaa. Sobat bloggers tau gak sih apa itu perilaku berisiko ? hm, tau dong ya. Sebelum adanya sebutan perilaku berisiko, mungkin sobat bloggers disini lebih suka menyebutnya dengan "pergaulan bebas". Namun setelah kita pelajari kita boleh kok bergaul dengan banyak orang dan bebas dengan siapa saja. Tapi tapi tapi, ada tapinya nih sobat bloggers dalam berteman atau bergaul memiliki indikasi akan adanya perilaku berisiko yang dapat membahayakan bukan hanya fisik dan mental kita saja namun juga masa depan kita loh sobat bloggers. Jadi tanpa berlama - lama, kita langsung simak saja yukk...
Masa remaja merupakan masa transisi dari anak - anak menuju dewasa. Remaja didefinisikan sebagai orang yang memiliki rentan usia 10-24 tahun dimana pada usia tersebut remaja belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga remaja akan mengalami tantangan untuk menghadapi tekanan yang datang. Pada usianya remaja cenderung menyukai hal baru dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka akan suka untuk menjelajahi hal baru yang belum pernah mereka coba bahkan melakukan hal yang seharusnya belum mereka lakukan pada usianya. Remaja juga memiliki keinginan untuk menjadi orang dewasa yang menyebabkan remaja ingin melakukan aktivitas yang orang dewasa lakukan yaitu terkait dengan seksualitas.
Permasalahan seksualitas pada remaja lebih mengarah kepada masalah kesehatan yang berkaitan dengan perilaku berisiko, seperti merokok, mabuk dengan meminum-minuman beralkohol, penggunaan narkoba, hingga yang paling fatal yaitu melakukan hubungan seksual pranikah. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa remaja berisiko adalah remaja yang pernah melakukan perilaku yang berisiko bagi kesehatan. Masalah berisiko pada remaja bermula dari kebiasaan buruk remaja yang sering merokok, penyalahgunaan narkoba, minum alkoloh dan juga hubungan seksual yang tidak aman yang bisa mengakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan bahkan dapat menyebabkan penyakit menular seskual termasuk HIV/AIDS.
Menurut Green dan Kreuteur (Heny dan Sugiharti, 2011), ada tiga faktor yang menyebabkan atau mempengaruhi perilaku berisiko pada remaja. Pertama adalah faktor yang melekat (predisposing) faktor ini berasal dari dalam diri seorang remaja yang menjadi alasan atau motivasi untuk melakukan suatu perilaku. Yang kedua adalah faktor enabling, dimana faktor ini menjadi faktor pendorong untuk melakukan suatu perilaku dapat terlaksana. Yang terakhir adalah faktor reinforcing atau faktor penguat yaitu faktor yang dapat memperkuat perilaku. Faktor ini ditentukan oleh pihak ketiga atau orang lain seperti keluarga, teman sebaya, tokoh masyarakat, dan pengambil keputusan.
Menurut data dari SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) dalam tahun 2017 terdapat sekitar 2% remaja perempuan dan 8% remaja laki - laki usia 15-24 tahun mengaku telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, dan 11% diantaranya mengalami KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan). Data ini dilakukan per 5 tahun sehingga untuk data tahun ini belum dilakukan. Berdasarkan presentasi diatas terlihat bahwa perilaku berisiko yang dilakukan oleh remaja masih tergolong tinggi, sehingga kita perlu mengantisipasi dan mengupayakan beberapa hal yang dapat digunakan untuk mencegah adanya perilaku berisiko tersebut. Caranya antara lain : Memberikan informasi atau edukasi terkait kesehatan reproduksi bagi remaja, memberitahukan dampak kepada remaja terkait melakukan hubungan seksual yang tidak aman, mencegah remaja untuk tidak menikah di usia dini, serta bekerjasama baik dengan keluarga maupun masyarakat untuk memperhatikan tumbuh kembang remaja yang merupakan salah satu hal penting untuk kemajuan bangsa dan negara.
Seru banget kan sobat bloggers pembahasan kita pada hari ini. Jangan lupa share, comment, dan tunggu ya blog kita yang lebih seru lagi yang tentunya tidak akan jauh - jauh dari pembahasan seputar remaja. See you.....
DAFTAR PUSTAKA
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia : Kesehatan Reproduksi Remaja, 2017. Jakarta, Indonesia.
Lestary, H., & Sugiharti, S. (2007). Perilaku berisiko remaja di Indonesia menurut survey kesehatan reproduksi remaja indonesia (SKRRI) Tahun 2007.
Komentar
Posting Komentar