Pelatihan Fasilitator, Pelatihan PFA, dan Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan KESPRO di SMP

Hai Sobat magang sudah lama tidak berjumpa yaa.. 

Udah hampir satu minggu kami tidak update mengenai kegiatan kami di PKBI Jateng. Ngomong - ngomong soal magang, sepertinya udah lama ya kami membersamai kalian di sini. berbagi pengetahuan mengenai kesehatan seksual dan reproduksi, maupun sharing kegiatan lainnya seperti posyandu remaja, dll. Nah, untuk itu sepertinya kami akan melanjutkan cerita perjalanan kami selama magang di PILAR PKBI JATENG nih. Pada kesempatan kali ini juga, kami akan sharing kegiatan kami seperti mengikuti pelatihan fasilitator, Pelatihan PFA (Psychological First Aid) , dan juga Workshop Kesehatan Seksual dan Reproduksi. Yuk simak bareng - bareng... 


Pada tanggal 14 Maret 2022, kami mengikuti kegiatan pelatihan fasilitator dengan relawan pilar PKBI. Di pagi hari kita diberikan pembekalan terlebih dahulu mengenai bagaimana cara menjadi fasilitator yang baik. Selanjutnya pada siang hari kami langsung di bagi kelompok dan menjalankan simulasi sebagai fasilitator. Perlu di ingat bahwa untuk menjadi fasilitator kita harus bisa membangun suasana yang menyenangkan sehingga peserta lain akan merasa nyaman dan juga bisa menyerap materi yang diberikan. Seorang fasilitator juga perlu memperhatikan materi yang akan dibawakan dan tentunya juga harus lebih menguasai materinya. Metode dalam menyampaikan materi juga sangat penting, agar peserta bisa lebih mudah dalam memahami apa yang disampaikan oleh fasilitator. Kita juga perlu menyesuaikan jenjang pendidikan peserta jangan sampai metode yang kita gunakan menjadi sulit untuk dipahami oleh peserta. Diakhir kami melakukan evaluasi untuk kegiatan ini, masih banyak kekurangan saat melakukan simulasi seperti kurangnya pemahaman saat meyampaikan materi, kurang membangun suasana yang menyenangkan, dan juga masih perlu berlatih untuk berbicara didepan umum seperti halnya dalam menata kata - kata agar mudah dipahami oleh audiens. Dari kami sendiri masih perlu berlajar untuk bisa menjadi fasilitator yang baik, namun sejauh melakukan simulasi kami sudah memberikan yang terbaik. Pelatihan ini juga sangat bermanfaat bagi kami tentunya dalam mengolah kata untuk merangkai kalimat yang mudah untuk dipahami, karena tidak dapat kami pungkiri dalam melakukan bimbingan konseling nantinya pun  kami perlu menyampaikan kalimat yang sederhana, padat, dan mudah untuk diterima oleh klien sehingga tidak jauh beda dengan melakukan kegiatan fasilitasi ini. 


Pada tanggal 21 Maret 2022, kami diikut sertakan untuk mengikuti pelatihan PFA (Psychological First Aid) bersama dengan ibu bidan dan juga dosen dari UNIKA. Dalam kegiatan pelatihan tersebut kami diajak untuk mengetahui bagaimana cara menangani kasus korban kekerasan seksual dari perspektif bidan yang sering kali menemukan kasus kasus dari kekerasan seksual. Sedangkan kami, menangani kasus kekerasan seksual dari sudut pandang sebagai konselor sekolah yang juga rentan terhadap perilaku - perilaku berisiko yang dilakukan oleh seorang remaja. kami dibekali materi tentang kekerasan seksual mulai dari jenis - jenisnya, korbannya, lalu diberikan gambaran mengenai siklus mulai dari korban menjadi pelaku kekerasan seksual. setelah dibekali dengan berbagai materi, kami melakukan simulasi apabila kami menemui korban dari kekerasan seksual. apa yang akan kami lakukan ? menjugde atau justru menyemangati korban tersebut untuk melewati masalah yang sedang dihadapi. perlu kita ketahui disini, jenis atau macam dari perilaku kekerasan seksual itu bermacam - macam bentuknya dan dapat dikatakan sebagai kekerasan seksual apabila didalamnya tidak terdapat consent dari kedua belah pihak yang terlibat dalam hubungan. Apabila kita menjumpai korban dari kekerasan seksual kita tidak boleh menjudge dan menyalahkan korban atas perilakunya, tetapi kita lebih ke mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi sehingga dapat menemukan titik atau jalan keluar bersama. Korban kekerasan seksual sangat sensitif apabila ditanya seperti halnya yang dapat membangun ingatan atau memorinya saat kejadin itu berlangsung. seperti "kenapa?" , " Bagaimana kejadiannya ?", dll hal ini adalah pertanyaan yang sensitif bagi korban kekerasan seksual. Kegiatan pelatihan ini tentu sangat seru karena kita bisa bertemu dengan ibu bidan yang semangat sekali saat melakukan simulasi. Selain itu kami memiliki sudut pandang baru jika korban kekerasan seksual ditangani oleh seorang profesi bidan.  


Pada tanggal 23 Maret 2022, pada workshop kali ini dilaksanakan di hotel Grasia Hotel Semarang mengenai Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi di Sekolah Menengah Pertama yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang bersama dengan PKBI Jawa Tengah. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 22, 23, dan 24 Maret tetapi kami mendapatkan tugas pada tanggal 23 Maret. Kami disini membantu sebagai dokumentasi, notulensi, dan juga co-fas. Peserta yang mengikuti workshop ini merupakan guru BK di Sekolah Menengah Pertama yang ada di kota Semarang. Pada awalnya kegiatan ini materi yang dibahas mengenai seks dan gender yang dipandu oleh Ibu Elisa, begitupun pada siang hari materi dipandu oleh ibu Elisa dengan materi mengenai pubertas. Saat materi seks dan gender kami menyiapkan kertas yang berisi tentang kata yang harus dipilih oleh peserta apakah akan di taruh di laki-laki, perempuan atau di tengah. Pada sesi ini guru BK terlihat sangat antusias sekali untuk menempelkan kertasnya bahkan terlihat berebutan untuk menempelkannya. Selanjutnya itu ada materi seks dan gender yang digambarkan dengan gender bread, walaupun pada sesi ini terbatas oleh waktu tetapi guru BK mendapatkan informasi dan pengetahuan dengan baik. Pada sesi siang dengan materi pubertas, peserta di bagi menjadi beberapa kelompok. Pada sesi ini guru Bk dibagi menjadi beberapa kelompok. Dalam pembagian ini dibagi berdasarkan usia yang dikatakan sebagai usia remaja. kemudian di perkembangan usia tersebut disebutkan ciri - ciri perkembangannya mulai dari perubahan fisik, psikologis, maupun emosional dari remaja tersebut. masing - masing kelompok kemudian mempresentasikan usia perkembangan seorang remaja. Karena yang mengikuti workshop pada kali ini adalah guru SMP, maka tidak akan lepas dengan yang namanya usia remaja karena kebanyakan pada jenjang sekolah menengah pertama adalah anak - anak yang masih berusia 13 - 15 tahun dan usia ini masioh tergolong usia remaja. Sehingga guru BK disini sangat penting dalam mempelajari remaja sebagai upaya preventif dan represif apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Perasaan kami pada saat mrngikuti kegiatan tersebut, kami sangat antusias sama halnya dengan bapak dan ibu guru BK yang mengikuti kegiatan workshop tersebut. Kami senang karena dapat menambah pengetahuan mengenai seks dan gender serta masa perkembangan remaja. Sehingga kami sebagai calon konselor dapat mengetahui sedikit gambaran seputar remaja. 

Nahh,, gimana nih seru kan sobat magang sesi sharing kita pada kali ini. Semoga dapat menambah pengetahuan kalian semuanya ya dari apa yang telah kami sampaikan. Mohon maaf juga apabila masih terdapat kekurangannya dan semoga kebaikan yang ada dalam blog ini dapat bermanfaat buat kita kedepannya. Terimakasih.. 
Sampai jumpa lagi guys. See you....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kegiatan Posyandu Remaja di Karang Taruna Banget Ayu Wetan

Mengenal PKBI Jawa Tengah