Apa Itu Gender?

 Halo Sobat Bloggers...

    Jumpa lagi dengan kami, semoga bloggers ga bosen yaaaaa. Pada blog kali ini masih seputar KESPRO (Kesehatan Seksual dan Reproduksi) yaitu mengenai Gender. Sebelumnya sudah dibahas mengenai gender pada materi KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online), namun pada blog ini akan membahas lebih dalam mengenai gender. Pembahasan kali ini cukup menarik karena masih banyak orang yang menyalahartikan kata gender.  Untuk itu di sini kita sama-sama belajar ya mengenai topic yang akan kami bahas.

    Gender merupakan perbedaan jenis kelamin berdasarkan konstruksi sosial atau konstruksi masyarakat. Namun seringkali masyakarat masih tabu denganperbedaan yang dinamakan sex dan gender yang sebenarnya keduanya memiliki arti yang berbeda. Sex adalah perbedaan jenis kelamin secara biologis sedangkangender dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips mengartikanGender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki - laki dan perempuan. Menurut Astiti juga mengemukakan bahwa gender adalah hubungan laki-laki danperempuan secara sosial.

    Konsep gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki atau perempuanyang dikonstruksi secara sosial maupun kultural dan dapat dipertukarkan. Sehinggasemua hal yang dapat dipertukarkan antara sifat laki-laki dan perempuan, yangbisaberubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbedadari suatu kelas ke kelas yang lain, itulah yang disebut dengan gender. Jadi, gender adalah konsep yang mengacu pada peran dan tanggungjawab perempuan danlakilaki yang dapat berubah oleh konstruksi/ keadaan sosial budaya masyarakat (WHO, 2010).

    Adapun contoh gender, antara lain :

  • Merokok dianggap pantas untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan. Denganperubahan zaman, perempuan yang merokok sudah dianggap biasa, bahkansebagai salah satu ciri perempuan ’modern’.
  • Bidan pantas sebagai pekerjaan perempuan karena dianggap mengurusi bagian-bagian intim perempuan; Dokter kandungan pantasnya laki-laki, bahkanpernah suatu masa dokter kandungan dilarang digeluti oleh perempuan.
  • Menjadi kepala (rumah sakit; perencanaan; proyek) dianggap ranah laki-laki; menjadi sekretaris (proyek, kantor, pimpinan) dianggap ranah perempuan;
  • Pekerjaan merawat dan membesarkan anak serta pekerjaan rumah tanggalainnya merupakan tugas dan tanggung jawab ibu rumah tangga, sedangkansuami mempunyai tugas mencari nafkah bagi keluarga.

    Karena kesalahpahaman dalam mengartikan gender, masyarakat lebih sering melakukan diskriminasi gender terlebih pada perempuan. Dimana perempuan lebih dianggap lemah dibanding laki-laki. Adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang masih sering terjadi antara perempuan dan laki-laki, sekali lagi kami tekankan bahwa hal tersebut terjadi dikarenakan masyarakat yang belum memahami perbedaan antara gender dan sex dimana masyarakat mengartikan keduanya (gender dan sex) dengan makna yang sama. Padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender dapat terjadi dalam beberapa bentuk ataumanifestasi, yakni:

  • Stereotipi: menempatkan wanita sebagai mahluk lemah, mahluk yang perludilindungi, tidak penting, tidak punya nilai ekonomi, orang rumah, bukanpengambil keputusan, dan lain-lain
  • Subordinasi: akibat bentuk stereotipi menempatkan perempuan pada posisi di bawah laki-laki, tidak boleh mengambil keputusan dibandingkan laki-laki, tidakmempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja atau berproduksi, pendidikan, dan lain-lain
  • Marginalisasi: terpinggirkan, tidak diperhatikan atau diakomodasi dalamberbagai hal, yang menyangkut kebutuhan, kepedulian, pengalaman, danlainlain
  • Beban Majemuk: perempuan bekerja lebih beragam daripada laki-laki, danlebihlama waktu kerjanya, misalnya fungsi reproduktif dan peran sebagai pengelolarumah tangga, termasuk bekerja di luar rumah

    Kekerasan Berbasis Gender: perempuan mendapatkan serangan fisik, seksual atau psikologis tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan. Kekerasan bisa berbentuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atauperampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi diranahpublik, tempat kerja, atau dalam kehidupan rumah tangga.

    Isu gender dalam kesehatan reproduksi Gender mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuansama-sama terkena dampak dan gender steriotipi masing-masing. Misalnya sesuai dengan pola perilaku yang diharapkan sebagai laki-laki, maka laki-laki dianggaptidakpantas memperlihatkan rasa sakit atau mempertunjukkan kelemahan- kelemahan serta keluhannya. Perempuan yang diharapkan memiliki toleransi yang tinggi, berdampak terhadap cara mereka menunda-nunda pencarian pengobatan, terutamadalam situasi social ekonomi yang kurang dan harus memilih prioritas, makabiasanya perempuan dianggap wajar untuk berkorban. Keadaan ini juga dapat berpengaruh terhadap konsekuensi kesehatan yang dihadapi laki-laki dan perempuan.

 

Daftar Pustaka

Widihastuti, Asti. Gender. Angsamerah.com Klinik Kesehatan Wanita dan Pria. https://angsamerah.com/pdf/Angsamerah-Handout_Gender.pdf. Diakses pada 20 April 2022

https://spada.uns.ac.id/pluginfile.php/60264/mod_resource/content/1/GENDER.pdf

 http://repository.uin-suska.ac.id/20488/7/7.%202018205TMPI_BAB%20II.pdf.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kegiatan Posyandu Remaja di Karang Taruna Banget Ayu Wetan

Mengenal PKBI Jawa Tengah

Pelatihan Fasilitator, Pelatihan PFA, dan Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan KESPRO di SMP